Skip to main content

Hidup adalah Kompetisi

Sumber: Google
Tanyakan pada diri kita, amal apa yang bisa kita banggakan di hadapan Allah Swt?

"Hidup adalah kompetisi"

Untuk urusan dunia kita melakukan segala cara dan menghabiskan banyak waktu untuk menjadi yang terbaik.

Belajar dengan giat agar bisa menjadi yang terbaik di kelas.

Untuk apa?

Agar kita bisa membanggakan diri kita, kepada orang tua, dosen, teman, teman dekat, sahabat, dan orang lainya.

Setelah itu apa?

Belajar dengan giat agar kita mendapat IPK terbaik.

Untuk apa?


Agar kita bisa membanggakan diri kita, kepada orang tua, dosen, teman, teman dekat, sahabat, dan orang lainya.

Setelah itu apa?

ketika kompetisi dikelas kita rasa telah cukup buat kita, kita mencoba menyari kompetisi dunia lain diluar. dan lagi kita meluangkan banyak waktu untuk itu..

Untuk apa ?

Agar kita bisa membanggakan diri kita, kepada orang tua, dosen, teman, teman dekat, sahabat, dan orang lainya.

Setelah itu apa?
dan buat apa semua itu?

semua hasil kompetisi yang kita lakukan saat kuliah, lomba, organisasi, dan urusan dunia lainya.
kita gunakan untuk memenangkan kompetisi lainnya dengan para pencari kerja ataupun para wiraswasta lainya.

setelah itu apa?

kompetisi terus berlanjut, kali ini kita bersaing dengan para karyawan lainnya untuk mendapatkan posisi yang kita inginkan.
atau berkompetisi dengan para wiraswasta lainnya untuk mendapatkan, profit terbanyak.

umtuk apa?
Setelah itu apa?

Kompetiisi dunia akan terus ada, sampai tiba saatnya nanti kita harus meninggalkan dunia, dan tak jarang kondisi ini membuat kita terkadang lupa atas kompetisi yang sebenarnya.

Kompetisi apa?

Kompetisi untuk menjadi yang terbaik disisi Allah..

Pernahkah kita bertanya amal apa yang bisa kita banggakan di hadapan Allah, kelak ketika kita menghadap Dia?

Shalat ?
Sementara kita ketika shalat banyangan dunia masih begitu banyak dipikiran kita.

Puasa ?
Sementara kita mungkin hanya berpuasa pada bulan ramadhan, atau mungkin puasa senin kamis, yang terkadang dalam niat kita masiha ada niat yang tidak tertuju kepa Dia.

sedekah ?
Kita bukan Milioner yang bisa menyedekahkan harta kita..

Karatakanlah Shalat, Puasa, dan Sedekah kita bisa kita jalankan dengan baik, jika dibandingkan lingkungan kita. mari kita keluar dari lingkungan kita, dan masuk ke lingkungan lainnya yang lebih baik, maka kita akan merasa begitu kecil dibandingkan yang lain.

lalu masih pantaskah kita mengatakan bahwa usha kita telah maksimal?

Mari tanyakan lagi..
Amalan apa yang akan kita banggakan dihadapan Allah kelak?
kemudian pikirkan lagi, seberapa besar usaha yang kita lakukan untuk itu, dan seberapa banyak waktu kita didunia kita luangkan untuk itu?

Semoga langkah kita bisa dimudahkan untuk berkompetisi dalam rangka menjadi yang terbaik di hadapan Dia.

Aamiin..

Andriawan Abdi ( Abdi A )

Comments

Popular posts from this blog

Arti Sebuah Ijasah

14 Maret 2016 ijazah ditanda ta n gani oleh R ektor Univers i tas Bakrie yang berarti bahwa saya telah resmi menyandang gelar S.M,. 29 September 2016 saya baru mengambil ijazah di Universitas Bakrie. Lalu kenapa baru di ambil? Prinsip yang saya coba tanamkan dalam diri saya adalah Pendidikan, gelar, kekayaan, garis keturunan keluarga, gaya hidup atau sejenisnya bukanlah hal yang pantas yang bisa dijadikan oleh seseorang untuk menyatakan diri lebih baik atau lebih tinggi dibandingkan orang lain. Saya masih yakin bahwa di dunia kita hanya perlu menjalankan peran yang diberikan oleh Allah kepada kita sebagai Abdi(u)llah dan Khalifah*. Perkara kedudukan dalam sebuah tatanan masyarakat atau organisasi, seperti pemimpin, ketua, koordinator atau yang lainnya kita hanya perlu menjalankan semuanya dengan tetap berpegang pada prinsip dasar peran kita di dunia. Tanpa harus menjatuhkan, menyalahkan, atau merendahkan kedudukan lainnya karena pada dasarnya kedudukan kita sama. Jad...

ANAK KAMPUNG

“Saya Andri anak muda kampung yang lagi tinggal di kampung, dan berusaha membuktikan kepada anak muda kampung lain bahwa berdaya itu tidak hanya di kota, tapi juga bisa di kampung” Ungkapn kenalan ini yang belakangan menemani saya ketika menjadi narasumber dalam beberapa acara pelatihan, talkshow, atau seminar. Ungkapan itu sejatinya adalah motivasi untuk diri sendiri, sebagai penguat langkah akan visi   hidup diri sendiri yang lagi berusha berdaya dari kampung. Selebihnya tentu saya juga berharap bisa menjadi motivasi bagi anak-anak muda kampung yang lagi berjuang di kota untuk kembali ke kampung. Pilihan untuk pulang kampung sejatinya bukan pilihan yang mudah, karena akan banyak tantangan dan cobaan yang menghampiri, oleh karena itu saya sejujurnya tidak memaksakan untuk anak-anak muda kampung lain untuk kembali ke kampung mereka sendiri, walaupun saya sangat berharap semakin banyak anak muda yang memutuskan untuk tinggal di kampung dan mulai membangun Indonesia ...

Jalanan Kota ini

Sumber Foto: Google Tiga bulan lamanya sudah, diri ini menghabiskan waktu dua jam setiap harinya di jalanan kota ini. Jalanan kota ini seolah menunjukan beraneka ragam kehidupan, mulai dari kehidupan yang super mewah hingga kehidupan yang super bawah. *** Ketika mata ini dipertunjukan akan kehidupan mereka yang penuh dengan  kemewahan dunia, sontak semangat untuk berjuang mencapai kesuksesan itu begitu membara, seraya hati ini berbisik lirih.. “suatu saat diri ini pasti mendapakatnya” “jika mereka bisa kenapa diri ini tidak bisa” Namun... Saat jalanan kota ini memperlihatkan kehidupan mereka yang begitu tidak layak, hati ini sektika terenyuh, sedih, dan perihatin akan nasib mereka, hingga akhirnya hati inipun berbisik lirih. “betapa beruntungnya diri ini masih bisa berjalan dengan tegak” “betapa beruntungnya diri ini masih bisa tidur di tempat yang layak” “betapa beruntungnya diri ini masih bisa makan tiga kali sehari dengan lauk yang lumayan enak” “Alh...